Jeritan Tanpa Suara
Oleh Rinny Soegiyoharto
Perkenankanlah sepotong kisah membuka perbincangan kita. Pemuda tegap yang biasanya cerah dan ramah itu, kini berwajah muram, masai, dan kucel, karena berhari-hari tak lagi bercukur. Butiran peluh memenuhi dahi hingga mengalir ke seluruh wajahnya. Ia sangat putus asa, dan ia sudah membuat pilihan. Ia akan mengakhiri hidupnya sesegera mungkin, sekarang.
Pikirnya, mati pasti menyelesaikan persoalan, karena hidup tak lagi mampu memberi harapan. Pemuda itu menjerit tanpa seorang pun dapat menangkap suaranya. Entah disebut beruntung atau tidak, tapi ia tidak jadi mati. Pertolongan datang pada waktu yang tepat.
Jeritan tanpa suara terjadi hampir di setiap sudut di negeri ini, dengan atau tanpa niat bunuh diri (suicide) seperti pemuda itu. Betapa tidak, rasa putus asa yang hebat telah melumuri seluruh pikirannya. Sebagai tenaga cleaning service dengan upah harian Rp 19.000, semakin menghimpit pemenuhan kebutuhan hidup diri dan keluarganya ketika berbagai biaya sontak naik berlipat mengikuti kenaikan harga BBM.
Coba kita berhitung sejenak, Rp 19.000 sehari untuk kehidupan di ibukota sangat tidak leluasa, setelah dipotong ongkos transportasi dan makan. Sebelum kenaikan BBM saja, pemuda cleaning service itu hanya mengantongi Rp 10.000 untuk biaya hidup ibu dan dua adiknya yang masih bersekolah. Pasca-kenaikan BBM (2005, red), ongkos transportasi berlipat, harga makanan naik, maka uangnya tinggal Rp 4.000. Jumlah yang jelas-jelas makin tidak cukup untuk menopang hidup keluarga. Maka pilihan pun kian sempit. Sang pemuda tak mampu lagi menjerit dan suaranya tiada pernah sampai kepada siapa pun. Ya sudah, keputusan akhir diambil, terjadilah percobaan bunuh diri.
Kenapa Bunuh Diri?
Ketika seseorang memutuskan untuk bunuh diri (to commit suicide), sesungguhnya hal itu bukan sebuah keputusan yang dibuat berdasarkan pemikiran akal sehat. Rasa putus asa yang mencekam seseorang secara terus-menerus dalam suatu periode waktu, telah menghentikan proses kreatifnya untuk berpikir alternatif. Kendati pada setiap ujung permasalahan hidup manusia tetap masih ada dua pilihan, yakni: hadapi atau akhiri.
Kenapa mengakhiri hidup alias bunuh diri menjadi jalan yang dipilih? Sebab yang bersangkutan tak mengerti dan sama sekali tidak tahu bagaimana cara menghadapi problem beratnya. Ia tak punya tempat mengadu, bertanya, bahkan berbisik. Ia hanya mampu menjerit di dalam hati, tanpa memperdengarkan suara.
Orang-orang seperti ini belum dapat dikategorikan mengalami gangguan jiwa, namun sangat membutuhkan perhatian dan pertolongan orang lain, termasuk penanganan terapi. Sebagai perbandingan, orang-orang yang mengelompok dalam aksi demonstrasi massa, atau mereka yang dapat menyuarakan pikirannya hingga "didengar" oleh orang lain (meski mungkin tidak "didengarkan"), lebih mampu memilih bertahan menghadapi hidupnya dengan segala permasalahan. Dengan demikian, masih terbuka cukup banyak kesempatan untuk berpikir alternatif. Walaupun cara yang ditempuh dapat menggosok munculnya masalah sosial baru.
Green light thinking, demikian salah satu istilah untuk menggambarkan kondisi kemampuan kognitif manusia dalam berpikir kreatif, memerlukan situasi rileks. Dalam suasana relatif regang, misalnya dengan masih dapat merasakan dukungan sosial dari orang-orang sekitar yang "senasib", ketegangan sejenak mengendur, pikiran agak rileks, meski tidak sepenuhnya tenang. Kondisi demikian memungkinkan terjadi proses kreatif yang menghadirkan berbagai pilihan. Sedangkan pikiran yang terpasung hanya mampu mempertebal satu pilihan, yakni akhiri hidupmu, maka berakhir masalahmu.
Hidup ini senantiasa penuh tekanan (stressfull), apalagi dengan kondisi sosial ekonomi saat ini. Diakui atau tidak, kenaikan BBM memicu kenaikan harga bahan pokok, sementara pendapatan per kapita relatif tetap. Daya beli masyarakat kian menukik turun, perangkat penyaluran kompensasi belum mantap, juga belum tampak solusi yang dapat membuka jalan keluar, setidaknya penyaluran subsidi pada sektor yang tepat, barangkali ke transportasi publik demi meringankan ongkos.
Kondisi demikian membuat semakin banyak orang terdesak oleh kebutuhan hidup. Jika hidup terdesak, pilihan tidak hidup menjadi alternatif. Tidak lagi menghargai hidup dapat berarti mati atau perusakan terhadap hidup. Merusak fisik dengan penggunaan zat berbahaya seperti narkoba, juga merupakan pilihan tidak hidup.
Stres berat pada sebagian orang memunculkan depresi, suatu gangguan kejiwaan yang bersifat afeksi. Dan apabila seseorang telah masuk dalam kategori gangguan jiwa, sifat pertolongan sepenuhnya bergantung pada orang lain sebelum penderita mengalami insight, yakni suatu keadaan sadar diri untuk berubah.
Tekanan Kehidupan
Mengharapkan pengertian dan empati pihak lain, misalnya penguasa atau pembuat regulasi, dalam kehidupan bermasyarakat sepertinya bukan perkara gampang. Kendati E Jerry Phares (1984) mengatakan bahwa peraturan, otoritas dan regulasi yang gegabah tampaknya merupakan salah satu jalan hidup yang harus dihadapi manusia. Toh, tekanan-tekanan kehidupan tetap mesti dilalui.
Maka tiada salahnya kita memilih cara-cara yang elegan untuk menolong diri sendiri, bahkan juga menolong orang lain, menjalani hidup ini. Dengan menghadapi hidup, kita sudah memilih sesuatu yang berani dan elegan untuk tidak mengakhirinya.
Jika berkenan, mari lakukan hal-hal berikut ketika hati kita mulai menjerit tanpa mampu bersuara.
Pertama, pertahankan keadaan insight. Mampu memilih berarti berakal sehat, tidak hanyut dalam keputusasaan dan mengasihani diri. Tubuh dan jiwa kita harus dikasihi, bukan dikasihani. Apabila kita berjumpa dengan orang-orang yang tampak mulai layu hingga tak sanggup memilih, segeralah menopangnya dengan empati dan pemberian dukungan. Setidaknya ia tahu dirinya tidak sendirian.
Kedua, mengertilah bahwa setiap orang membutuhkan orang lain ketika menghadapi masa-masa sulit yang penuh tekanan. Dengan pengertian ini, maka kita tidak perlu malu, cemas atau takut, ketika ingin berbagi kesulitan dengan orang lain. Sebaliknya kita pun lebih peka dan terbuka menerima orang yang berkeluh-kesah membagi bebannya dengan kita. Intinya, orang butuh curhat. Setiap orang mungkin dan mampu mengasah kepekaan dan keterampilan mendengarkan orang lain.
Ketiga, dianjurkan setiap orang mampu membangun jaringan. Tidak perlu muluk memikirkan bahwa menjalin kekerabatan bersifat bisnis semata dengan hubungan mutual yang saling menguntungkan adalah tujuan utama. Membangun jaringan dapat dilakukan dengan menolong orang lain yang tak tahu bagaimana cara membangun jaringan dengan mengajaknya berdialog, menanyakan kabar atau sekadar bertegur sapa secara rutin. Upaya ini mengandung manfaat luar biasa bagi kemanusiaan.
Keempat, memiliki ide-ide "gila" atau aneh, namun bernilai positif, bukan sesuatu yang salah. Justru bisa saja menjadi persediaan alternatif pilihan yang kreatif untuk menjalankan usaha kecil hingga dapat memenuhi kebutuhan hidup pada masa yang sulit. Ketika kita mampu menggali ide "gila" dari seseorang yang tampaknya tengah putus asa, ide itu menjadi ide "gila" yang saling bersinergi.
Kisah jeritan tanpa suara pemuda cleaning service, bukan masalah tunggal dalam masyarakat negeri ini. Ada begitu banyak masalah serupa dialami oleh sangat banyak manusia di sini. Semoga saja hal itu tidak telanjur menjadi budaya lestari bangsa kita.
Rinny Soegiyoharto, Psikolog
________________________________________
Last modified: 20/10/05 SPM 23 Okt 2005
Nama Nuansa Carita [NNC®]- 2014

No comments:
Post a Comment