Pages

Wednesday

CINTA TAK PERNAH USAI



{Catatan: Artikel ini ditulis pada bulan Juli 2005 oleh Rinny Soegiyoharto, dan dimuat dalam kolom Psikologi Harian Suara Pembaruan, 10 Juli 2005. Diposting ke blog Nama Nuansa Carita [NNC®] oleh penulis sendiri.}



 SEJAK dahulu cinta merupakan kata indah, namun sekaligus misterius. Cinta tak pernah usai membayang-bayangi hidup manusia turun-temurun. Oleh sebab cinta Allah yang besar, maka diciptakan-Nya manusia Adam dan Hawa yang secitra dengan-Nya. Bahkan diserahkan-Nya segala isi bumi kepada manusia yang dicintai-Nya untuk dikelola dengan penuh cinta. Dijaga, dirawat, dilestarikan, agar cinta manusia dan seisi bumi tetap harmonis sebagai cerminan cinta Allah.
Dalam roman klasik maha karya William Shakespeare, Romeo and Juliet, kita tahu bahwa atas nama cinta Juliet rela menyerahkan nyawanya melalui tangannya sendiri alias bunuh diri di samping
jasad sang kekasih. Dan betapa dahsyatnya cinta pada peristiwa kelahiran ketika seorang ibu memperjuangkan hidup demi menghadirkan sang bayi ke dunia, buah cintanya dengan suami tercinta.
Cinta bersifat universal. Setiap manusia patut dicintai dan perlu mencintai. Banyak gesture (bahasa tubuh) secara umum mengisyaratkan cinta yang mudah dipahami oleh beragam manusia yang tinggal di berbagai belahan bumi. Misalnya, dekapan ibu yang melekatkan anaknya hangat ke dada, hampir semua orang sepakat hal itu semata-mata ungkapan cinta tak bersyarat.
Atau ketika seorang ayah yang kesehariannya mengais rezeki sebagai pemulung, Supriono, menggendong Khaerunisa (3), anak perempuannya yang telah beku jadi mayat akibat menderita muntaber akut yang tak tertolong. Namun ironis, justru cinta tampaknya memiliki ukuran dan batas-batas, sehingga betapa sulitnya jalan yang mesti ditempuh Supriono untuk dapat segera menguburkan anaknya. Karena cinta dari lingkungan sekitar rupanya disekat oleh kepentingan-kepentingan lain yang justru mengaburkan makna cinta dengan minimnya tindakan.
Pemuda-pemudi yang tengah dimabuk cinta bahkan lebih kuat menampilkan isyarat-isyarat cinta satu sama lain. Tatapan, sentuhan, genggaman, dan lain sebagainya. Semua itu seolah-olah mengumumkan pada khalayak bahwa cinta hanya milik mereka.
Betapa misteriusnya cinta, tak pernah usai mengikuti hidup manusia dari generasi ke generasi. Dan betapa dahsyatnya cinta beserta akibat-akibatnya, bahkan ukuran-ukuran maupun tetapan-tetapan yang dimuatinya. Dalam hal ini kita pun tak bisa lepas untuk bicara mengenai struktur dan bentuk-bentuk dari cinta itu sendiri. 
 
Struktur Cinta
Cinta dalam hubungan antarmanusia telah menarik perhatian para peneliti, seperti Erich Fromm (1972), R.J. Sternberg (1986, 1988), Hendrick dan Hendrick (1989), dan beberapa yang lain. Mereka meneliti sifat, kadar, bentuk, serta berbagai sisi lain dari cinta. Penelitian-penelitian yang dilakukan menggunakan berbagai peranti psikologi untuk mempelajarinya secara sistematik.
Kurang lebih dua belas tahun silam, penulis melakukan penelitian tentang topik cinta, yakni cinta dalam relasi yang lebih spesifik, menggunakan alat ukur hasil adaptasi dari Sternberg Triangle of Love Scale (STLS), serta mengembangkan peranti Physical Attractiveness Scale. Cukup menakjubkan karena cinta ternyata tidak berkorelasi dengan hanya satu aspek saja, bahkan mungkin agak sulit menemukan korelasi cinta dengan faktor-faktor lain. Karena cinta adalah cinta itu sendiri.
Sesungguhnya beberapa skala pengukuran cinta sudah dikembangkan secara empirik, selain STLS. Sebut saja, Love Attitude Scale (LAT), Passionate Love Scale (PLS), juga Relationship Rating Form (RRF). Namun tampaknya belum ada alat ukur asli budaya Indonesia yang spesifik mengukur cinta dan bentuk-bentuknya.
Secara teoretis, The Triangle of Love dari Robert J Sternberg merupakan teori cinta nonteknik yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari oleh setiap orang pada setiap relasi. Menurut sang penemu, cinta terdiri atas tiga komponen, yakni kedekatan secara emosi (intimacy), gairah/nafsu, dan aspek motivasional yang mendalam (passion) dan komitmen (commitment). Untuk selanjutnya disebut sebagai: segitiga cinta (triangle of love). Hati-hati, bukannya cinta segitiga, lho!
Ketiga komponen di atas merupakan struktur bangunan cinta yang dapat dibayangkan sebagai suatu segitiga. Setiap komponen cinta menempati ketiga sisi dari segitiga cinta. Selanjutnya kadar yang terlibat dalam setiap komponen pembangun cinta dapat menentukan bentuk-bentuk cinta yang terdapat di dalam berbagai relasi. 

 Bentuk-bentuk Cinta
Apabila kita sering mendengar ataupun menggunakan istilah persahabatan, pacaran, pertunangan, cinta platonik, kasih orangtua, pernikahan, bahkan permusuhan, dan sebagainya, semua itu tiada lain adalah bentuk-bentuk cinta dalam hubungan antarmanusia. Dengan mengacu pada struktur STLS, maka kita dapat mengidentifikasi bentuk-bentuk cinta yang ada, termasuk cinta yang tanpa cinta, antara lain dapat disebutkan:
(1) Nonlove atau tanpa cinta. Bentuk ini benar-benar tanpa intimacy, passion, maupun commitment. Seperti orang-orang yang satu sama lain saling-asing. Tapi benarkah tiada rasa cinta sama sekali? Setiap orang dalam kelompok asing mungkin memiliki cinta dalam bentuk lain dengan orang lain yang tak ada di situ. Bayangkan ketika seorang pengebom berbaur dalam kelompok para calon korban yang sebentar lagi akan bergelimpangan oleh ledakan bom si pelaku. Misalnya yang baru-baru ini menimpa penduduk Tentena, Poso, maupun peristiwa-peristiwa serupa yang seolah-olah menjadi tren beberapa tahun terakhir ini. Ia, sang peledak bom memiliki cinta pada keluarganya atau kekasihnya, tapi hampir tak ada cinta terhadap para calon korban, bahkan dianggap musuh yang harus dimusnahkan. Betapa menyedihkan hidup orang itu, karena ia tak menyadari bahwa dirinya adalah cerminan cinta Allah yang wajib memelihara keharmonisan alam dan hubungan antarmanusia dalam cinta.
(2) Friendship atau persahabatan. Komponen paling kuat yang berperan hampir dominan dalam bentuk ini adalah intimacy. Kedekatan emosi yang dalam disertai empati dan belas kasih terhadap orang lain. Kita sungguh perhatian pada kesejahteraan jiwa sahabat kita sebaik perhatian kita pada kesejahteraan jiwa diri sendiri.
(3) Infatuation. Merupakan bentuk cinta yang dianggap permainan bodoh dan tidak rasional. Karena komponen dominan adalah passion. Biasanya terjadi dalam cinta pada pandangan pertama, karena yang tertangkap secara visual semata-mata fisik dan sex appeal. Adakalanya juga berwujud pemujaan besar-besaran terhadap seseorang yang merupakan objek obsesi cinta.
(4) Romantic love atau pacaran. Dalam bentuk ini semua komponen berperan, hanya saja yang paling dominan adalah intimacy dan passion. Biasanya commitment yang terlibat bersifat jangka pendek. Misalnya di kalangan anak muda dikenal istilah "baru nembak" atau "jadian", adalah komitmen jangka pendek. Apabila kemudian hubungan tersebut berkembang mungkin akan membentuk komitmen jangka panjang yang bertujuan pada pernikahan, janji sehidup semati.
(5) Fatuous love. Bentuk ini dikenal sebagai cinta kilat. Dua orang berjumpa, lalu jadian, tak lama kemudian menikah. Menurut Sternberg, yang membangun cinta bentuk ini didominasi oleh passion dan commitment, tanpa intimacy untuk saling mengenal lebih dekat, dan biasanya lekas bubar.
(6) Companionate love. Merupakan cinta dalam hubungan persahabatan yang sangat langgeng. Hanya diwarnai oleh intimacy dan commitment. Biasanya terjadi pada pernikahan yang telah berusia panjang, semisal 50 tahun. Pasangan itu tidak lagi memiliki nafsu membara layaknya pasangan muda.
(7) Consummate love. Adalah bentuk sempurna dari segitiga cinta, karena ketiga komponen sama berperan kuat di dalamnya. Pada hubungan lawan jenis atau romantik, maka cinta bentuk ini biasanya terwujud dalam pernikahan. Namun tidak dibatasi pada jenis hubungan itu saja, cinta yang consummate juga terdapat di dalam hubungan antara orangtua dengan anak. Komponen passion dalam hubungan tersebut tidak diterjemahkan sebagai gairah atau nafsu seksual, namun lebih kepada kepuasan atas terpenuhinya kebutuhan terdalam untuk memberi dan menerima sepenuh hati, seperti pertolongan tanpa syarat, dan harga diri. Sesungguhnya, ketika orangtua mendekap anak dengan penuh cinta, menggambarkan betapa berharganya dirinya sebagai orangtua terhadap kehidupan sang anak. Begitu pula dalam hubungan antara kakak dan adik, kakek-nenek dengan cucu, dan lain-lain.
Cinta memang tak pernah usai. Hanya karena cinta manusia boleh menguasai bumi dan segala isinya untuk dicintai, bukan dirusak atas nama cinta. Solidaritas sosial di dalam masyarakat juga mencerminkan cinta yang dimiliki tiap orang di dalamnya. Solidaritas terwujud melalui aksi saling memberi dan menerima dengan tulus, ikhlas, utuh dan penuh, bukan ala kadarnya. Tak berle bihan imbauan berikut ini: mari kita saling mencintai dengan memaksimalkan setiap komponen cinta dalam diri kita. 

Rinny Soegiyoharto
Penulis adalah psikolog


Last modified: 7/7/05  SPM 10 Juli 2005

Nama Nuansa Carita [NNC®]

No comments:

Post a Comment

Mengapa Anda membutuhkan kami?

Subjek terbesar dan terutama dari suatu organisasi adalah Manusia. Anda pasti setuju.

Perusahaan yang maju dan berkembang disebabkan oleh Manusia atau orang-orang handal di dalamnya.


Kelompok usaha yang berhasil, tak lain karena lagi-lagi Manusia yang mumpuni.


Institusi Pendidikan dikategorikan terbaik, karena berhasil mengukur dan mengembangkan Manusia-manusia di dalamnya; siswa, mahasiswa, bahkan alumni.


Kami dapat membantu Anda dengan sangat baik dan fleksibel untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. NNC menyelenggarakan pengukuran-pengukuran yang tepat dan konsultasi yang selaras demi kemajuan dan keberhasilan Anda. Termasuk mempersiapkan dan mengelola produk dan program yang mendukung Anda, Organisasi Anda dan Manusia di dalam organisasi.


Salam semangat!
Motto
“Serve you as a very special person”

NNC Quote #1
Increasing in networking, by paying everything forwarding in loving and surrendering

NNC Quote #2
Delivering psychological services had been built and based on keeping in professional, accountable, and trust-worthy
Providing some training, seminar, workshop, and learning process with spirit to help people's progressing and advantage as well
Organizing and managing every single event with love and joyfulness

Cluster of services
Human Resources Consultation
Psychological Services
Psychological Assessment
Psychological Tests
Counseling
Psychotherapy
Soul Healing
Learning Provider
Seminar Training (in-house and outing)
Workshop
Discussion Group
Similar Concern Community
Organizer and Production Event and its properties
Program Tailor made regarding to client’s need