*Antara Studi dan Karier, Akan ke Mana?*
Oleh Rinny Soegiyoharto
KONDISI dunia pendidikan Indonesia saat ini tengah merosot, kalau tidak ingin disebut terpuruk. Kondisi demikian, mungkin hanya bisa mengakomodasi kebutuhan sebagian kecil peserta didik dalam memilih jurusan pendidikan yang diinginkan atau arah karier yang dituju dari mayor pendidikan pilihannya.
Semoga saja hal itu tidak menyuburkan demotivasi pada peserta didik dalam upaya meningkatkan prestasi (
achievement improvement). Kendati cukup besar populasi peserta didik di seluruh pelosok negeri berdasarkan estimasi kasar jumlah penduduk usia sekolah.
Adakah pendataan dan pencatatan akurat penduduk usia sekolah yang tengah menempuh pendidikan formal pada setiap jenjang? Atau berbicara konkret, misalnya: berapa besar jumlah dan sebaran pasti anak sekolah yang "hilang" tersapu tsunami dan gempa tektonik di NAD, Nias, dan sekitarnya? Jawaban yang melegakan dinantikan dengan penuh harap.
Gaung peringatan Hardiknas tetap bergetar. Setidaknya media massa konsisten menyajikan isu-isu seputar pendidikan hampir pada setiap edisi. Ironis, peringatan Hardiknas diwarnai lebih dari satu peristiwa percobaan bunuh diri (suicide tendency) oleh peserta didik yang tak mampu membayar SPP. Di sisi lain, angin segar cukup semilir ketika empat siswa SMA kita meraih medali emas dalam Olimpiade Fisika Asia yang ke-6 di Pekanbaru, Riau, awal Mei lalu.
Para pemenang fisika dapat dipastikan telah memilih dan terpilih masuk jurusan IPA di jenjang SMA. Setelah itu, bagi mereka yang akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi berpotensi memilih program studi ilmu-ilmu eksakta, ilmu murni, maupun terapan.
Artinya, sadar atau tidak, para peserta didik tersebut mulai mengarah kepada pilihan karier yang akan digeluti beberapa tahun mendatang. Namun, benarkah akan selinier itu perjalanannya? Sementara kenyataannya, banyak sekali pekerja yang berkarier tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan mereka.
"Fenomena Memilih Karier"
Demotivasi dalam meraih prestasi akademik di kalangan pelajar, khususnya di kota besar seperti Jakarta, sebenarnya sudah tumbuh akibat sistem pendidikan kita.
Pertama, mengenai ujian nasional (UN);
kedua, persoalan dibukanya pendaftaran sekolah sebelum ujian akhir diselenggarakan.
Beberapa praktisi pendidikan dan orangtua siswa mengeluhkan keengganan peserta didik untuk belajar optimal menghadapi ujian akhir pada jenjang masing-masing. Sebagian disebabkan oleh UN yang dirasa kurang menantang, namun terlebih lagi anak/peserta didik sudah
ayem, tenteram dan damai, karena yakin pada tiket di tangan bukti terdaftar untuk jenjang berikutnya. Maka, belajar keras atau asal-asalan tidak menjadi masalah,
toh pasti masuk dan dapat melanjutkan ke SMP atau SMA, atau bahkan PT favorit.
Persoalan sistem tampak kompleks, maka lebih bijak untuk sementara diletakkan saja dulu. Menyusuri koridor bahasan kali ini, fenomena memilih jurusan dan menentukan karier cukup penting dalam kaitannya dengan motivasi.
Kesadaran peserta didik akan masa depan yang sedang dijelangnya melalui proses pendidikan tampak belum kuat.
Terbukti, hasil survei penulis terhadap 20 siswa SMA yang dipilih secara acak, hanya 1 (satu) orang yang mampu menyebutkan dengan mantap akan berkarier di bidang apa nanti setelah selesai bersekolah. Batasan ukuran "bersekolah" adalah
bachelor graduated, atau selesai kuliah sarjana S1. Sisanya hanya menggeleng, menjawab "bingung" atau bersikap skeptik dengan komentar seadanya, "lihat nanti sajalah".
Pendidikan dan arah karier tidak sama dengan perasaan yang sedang melanda seseorang, seperti misalnya, "ikutlah ke mana cinta membawamu". Pilihan studi merupakan penyataan sikap peserta didik sebagai konteks memandang masa depan yang terimplementasi dalam karier.
Telah menjadi semacam kelaziman, peserta didik dibantu orangtuanya memilih jurusan studi terlebih dahulu, baru kemudian memikirkan karier apa yang cocok dengan jurusan tersebut.
Ketika selesai menempuh pendidikan, orang cenderung memilih pekerjaan atau kariernya bergantung pada ketersediaan lapangan pekerjaan. Kemudian karier akan mengalami proses eksplorasi selama seseorang bekerja sampai ia menemukan bentuk dan tempat yang paling pas baginya. Andaikan seseorang tak kunjung menemukan karier yang tepat, proses eksplorasi yang tidak menentu dapat terus berlangsung. Kondisi demikian berpotensi menciptakan keputusasaan yang pada akhirnya menambah angka pengangguran di negeri ini.
Betapa kuat pengaruh pilihan studi dan karier bagi seseorang. Di era persaingan global saat ini, semakin sempit gerak manusia untuk berhenti, bingung atau ikut arus yang membawa dirinya ke mana pun arus itu mau. Manusia harus menjadi sopir bagi dirinya sendiri, itulah pilihan yang paling baik.
Dua di antara beberapa ahli dalam konseling karier, Super (1984) dan Holland (1984), mengemukakan, sudah saatnya pola berpikir orang terhadap pendidikan dan karier dibalik. Yakni, seseorang harus menentukan kariernya lebih dahulu, baru kemudian menyesuaikan pilihan studi yang akan ditempuh dan mendukung bekal akademik terhadap karier pilihannya.
Karier tidak harus muluk atau digantung tinggi, yang penting sesuai dengan kapasitas dan aspek-aspek pribadi dari orang tersebut. Cara awal termudah adalah mengumumkan cita-cita atau impian karier masa depan yang terus-menerus diperkuat. Mengumumkan impian karier kepada lingkungan terdekat akan membantu terciptanya dukungan kolektif untuk penguatan dan pemantapan.
"Eksplorasi Karier"
Langkah lain yang dapat ditempuh adalah melakukan eksplorasi karier sebelum memilih jurusan studi. Banyak sekali alat bantu yang dapat digunakan. Misalkan mencari informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai media dan buku-buku. Minat baca tentu merupakan syarat utama bagi para pencari karier. Atau dapat pula mengikuti tes minat dan bakat (aptitude test), yang biasanya dilaksanakan oleh psikolog dan konselor karier.
Hasil tes bakat menggambarkan profil kemampuan intelektual, sistematika kerja, kreativitas, kecenderungan kepribadian dan arah minat, gaya belajar yang paling menonjol serta jenis-jenis karier yang cukup mendekati terhadap seseorang. Namun, sekali lagi pilihan-pilihan cara tersebut hanyalah alat bantu bagi peserta didik dalam melakukan eksplorasi karier. Pilihan akhir perlu diselaraskan dengan impian karier yang sudah dibangun, cocokkan semua cara yang telah dilakukan agar dapat menentukan bidang karier apa yang cenderung paling dominan.
Eksplorasi karier tidak hanya berlaku bagi peserta didik di jenjang SMA. Sekolah lanjutan tingkat atas yang juga dapat menunjang pilihan karier adalah sekolah menengah kejuruan (SMK). Jadi, peserta didik di jenjang SMP pun sudah dapat memilih karier agar mantap ke SMK atau SMA. Meski, survei kecil terhadap siswa SMK mengenai alasan utama memilih kejuruan itu lebih banyak mengarah pada ketidaktersediaan dana pendidikan untuk melanjutkan ke PT, dengan asumsi selepas SMK langsung siap kerja.
Ada pula alasan lain yang mengemukakan rasa pesimistis terhadap kemampuan intelektual dan akademiknya, sehingga dengan memilih SMK peserta didik tersebut merasa lebih percaya diri dan termotivasi bersaing menggapai prestasi "di kelasnya". Namun, ada yang dengan mantap mengungkapkan, pilihan SMK adalah yang terbaik untuk mewujudkan cita-cita menjadi sekretaris di usia relatif muda, misalnya.
Mengingat keterbatasan-keterbatasan dunia pendidikan dan lapangan kerja kita, pilihan karier dan studi yang mendukung memang tidak mutlak ditempuh secara formal. Ibarat sebatang pohon, pendidikan formal (minimal sampai jenjang SLTA) merupakan batang utama. Tentu meranggas apabila tidak dihiasi batang-batang kecil tempat dedaunan hijau bersemi.
Adakalanya, preferensi dan aktivitas ekstrakurikuler sebagai daun-daun pelengkap pohon tersebut justru menjadi sarana yang menfasilitasi tercapainya karier impian. Tanpa pretensi, bagi peserta didik yang memiliki impian berkarier di ajang politik, ditambah tingginya aktivitas organisasi semasa SMA, kemampuan persuasifnya menonjol dengan inteligensi verbal yang baik, maka menekuni pendidikan politik semacam *******(red:) mungkin dapat menjadi alternatif.
Penulis berharap bahasan ini sedikitnya dapat menjadi alat bantu untuk memotivasi peserta didik yang tengah berkutat mempersiapkan diri menempuh ujian akhir. Di samping sebagai wacana agar masyarakat, praktisi pendidikan, peserta didik dan orangtua siswa dapat memasuki suatu kerangka acuan dalam pemilihan studi dan karier yang merupakan faktor penentu masa depan generasi penerus bangsa ini. Kita semua adalah sopir bagi bangsa kita sendiri. *
Penulis adalah psikolog, di Jakarta.
Last modified: 20/5/05
NNC Consultant®
Nama Nuansa Carita Corp.
[Jasa Layanan Psikologi (Konsultasi, Asesmen untuk Rekrutmen-Promosi-Pemetaan-Profiling, Terapi, Tes Psikologi, Profil Psikologis, dll), Pelatihan, Seminar, Pengelolaan Acara (EO), Pembuatan Modul dan SOP]
http://nnc-consultant.blogspot.com/
e-mail addresses:
• nconsultant.indonesia@gmail.com
• rinny.nnc@gmail.com
• na2.nnc@gmail.com
Direct Contact:
+62 813 809 522 48 (SMS sebelum menelepon)
No comments:
Post a Comment